Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kunjungi Lapangan Banyu Urip

0
169

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro, Nurul Azizah bersama kepala-kepala bidang di DLH mengunjungi Lapangan Minyak Banyu Urip, Senin (10/3/2019). Kunjungan tersebut dalam rangka memperkenalkan lapangan minyak kebanggaan Bojonegoro kepada anggota Satuan Karya Pramuka (Saka) Kalpataru.

“Sekarang bisa lihat kan seperti apa Lapangan Banyu Urip ini? Biar kita semua bisa melihat lebih dekat sumber migas terbesar kebanggaan kita ini,” ucap Nurul kepada 40 peserta kunjungan.

Dia juga menyampaikan bahwa Lapangan Banyu Urip yang dioperatori ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) ini merupakan bagian dari yang dimonitor DLH Bojonegoro. Sehingga, komunikasi dan koordinasi dengan EMCL selalu terus dilakukan.

“Ini sinergi yang sudah baik,” ujar Nurul diiringi tepuk tangan para peserta.

Nurul mengapresiasi EMCL yang telah memfasilitasi para pramuka peduli lingkungan tersebut. Menurutnya, kunjungan ini penting bagi Saka Kalpataru karena akan jadi bahan pengetahuan tentang kondisi alam di Kabupaten Bojonegoro.

Pada kesempatan tersebut, anggota Saka Kalpataru berdiskusi dan tanya-jawab bersama manajemen EMCL. Nampak hadir External Affairs Manager EMCL, Dave A. Seta, insinyur bagian lingkungan, dan jajaran humas.

Dave menyampaikan terima kasih kepada DLH Bojonegoro yang selama selalu mendukung kegiatan operasi Lapangan Banyu Urip. Kata dia, EMCL menyambut baik kedatangan tim Saka Kalpataru bersama rombongan DLH.

“Bagi kami, kegiatan ini penting sebagai bagian dari sosialisasi industri hulu migas kepada masyarakat,” ungkapnya.

Setelah pemaparan dan penjelasan mengenai bagaimana Lapangan Banyu Urip beroperasi, peserta diajak berkeliling ke semua fasilitas. Mulai dari fasilitas penampungan air (water basin), fasilitas pengolahan sampah dan limbah, fasilitas sarana dan prasarana pendukung, hingga fasilitas pemrosesan pusat atau Central Processing Facility (CPF) tempat minyak mentah diolah dan disalurkan ke lepas pantai.

Naning, salah seorang peserta, mengaku baru mengetahui bahwa ternyata hasil produksi di Lapangan Banyu Urip tersebut 85 persennya menjadi bagian negara. Sedangkan 15 persen dibagi kepada operator yaitu Pertamina EP Cepu, EMCL, dan BUMD.

“Ini informasi penting yang akan kita bantu sosialisasikan,” katanya bersemangat.

Menurut dia, selama ini masyarakat menilai bahwa minyak dari bumi Bojonegoro diambil oleh operator. Padahal, kata dia, pemahaman tersebut ternyata keliru.

“Ini harus diluruskan,” imbuhnya.

Selain Kepala DLH, rombongan juga didampingi Kepala Dinas Pendidikan yang merupakan ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Kabupaten Bojonegoro, Hanafi, beserta beberapa guru pembina pramuka.