Banyuwangi. Suasana hangat Banyuwangi di akhir pekan itu seolah menjadi latar belakang yang pas bagi sebuah pertemuan penting. Bagi industri hulu migas, tantangan bukan hanya soal mengebor bumi di lokasi-lokasi yang berisiko tinggi. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menyuarakan perjuangan menjaga ketahanan energi itu kepada masyarakat luas.
Di sinilah media mengambil peran. Bukan sekadar menjadi saluran publikasi yang kaku, melainkan sebagai kawan seiring yang saling menguatkan.
Semangat kolaborasi inilah yang menghidupkan suasana Gathering Media 2026 yang diinisiasi oleh Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina.
Digelar selama dua hari di ujung timur Pulau Jawa pada Jumat dan Sabtu (10-11/07/2026), acara ini mengusung sebuah visi besar: “The Future is Collaborative Sustaining Our Energy”. Sebuah optimisme bahwa masa depan energi nasional hanya bisa dijaga jika semua pihak bergerak bersama.

”Kami berterima kasih atas kerja sama selama ini dan selalu terbuka untuk komunikasi ke depan, tentunya sesuai dengan prosedur yang ada,” ujar Sigit Dwi Aryono, Senior Manager Relations Regional Indonesia Timur.
Bagi Sigit dan Pertamina, media adalah mitra strategis utama. Merekalah yang menjembatani rumitnya operasi hulu migas menjadi edukasi yang mudah dipahami oleh masyarakat.
Namun, dunia media sendiri sedang mengalami ombak perubahan yang besar. Hal ini dikupas tuntas pada hari pertama gathering, di mana para insan pers diajak menyelami lanskap media masa kini.

Wenseslaus Manggut, Chief Content Officer (CCO) Kapan Lagi Youniverse (KLY), memotret lompatan besar yang terjadi di dunia jurnalistik. Jika pada 2022 jurnalisme teks masih berdiri kokoh, kini peta ketertarikan publik telah bergeser tajam. Hampir 70% audiens lebih terpikat pada media visual. Ini menjadi tantangan baru bagi para jurnalis: bagaimana tetap melahirkan konten yang berkualitas dan bernilai jurnalistik tinggi di tengah visualisasi informasi.

Tantangan itu kian nyata ketika kecerdasan buatan (AI) mulai mengambil peran. Suwarjono, Chief Executive Officer (CEO) Suara.com, mengingatkan bahwa perusahaan media tidak bisa lagi sekadar bertahan dengan cara lama atau hanya mengandalkan pendapatan dari iklan konvensional.
“Teknologi bergerak begitu cepat. AI memang menjadi ruang baru yang sangat membantu audiens, tetapi AI tetap membutuhkan rujukan dari media-media yang kredibel dan berkualitas,” ungkap Suwarjono.
Ia mengajak media untuk lebih kreatif melampaui batas ruang redaksi. Mulai dari membangun kedekatan dengan komunitas, memanfaatkan media sosial seperti WhatsApp, TikTok, dan Instagram secara cerdas untuk menggiring audiens ke website, hingga membuka ruang-ruang kreasi baru seperti podcast dan kafe kolaborasi.

Pemilihan Banyuwangi sebagai lokasi gathering kali ini memberikan kesan mendalam. Kehadiran para awak media disambut hangat oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi lewat jamuan makan malam bersama di Pendopo Kabupaten yang asri.
Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi, Suyanto Waspo Tondo Wicaksono, menyampaikan harapan besarnya. Ia berharap momen berkumpulnya para jurnalis ini bisa menjadi pemantik positif untuk mengangkat potensi lokal, sekaligus memperkuat branding Banyuwangi sebagai destinasi wisata unggulan.
Setelah hari pertama diisi dengan diskusi dan ruang tajam pemikiran, hari kedua menjanjikan petualangan yang tak kalah memikat. Para peserta bersiap mengeksplorasi keindahan dan cerita tersembunyi Banyuwangi—mulai dari teduhnya Rowo Bayu yang sarat sejarah, segarnya Green Gumuk Candi, hingga tenangnya Pantai Cemara.
Perjalanan ini bukan lagi sekadar urusan liputan, melainkan tentang bagaimana energi dan pena berjalan beriringan, menjaga masa depan. (*iw

