Pemerintah Wadahi Organisasi Remaja Dengan PIK-R

0
929
REMAJA : Salah satu peserta dalam kegiatan PIK-R

Gayam (15/04) forumradiobojonegoro –

Remaja merupakan kelompok usia yang rentan menghadapi banyak masalah karena berhubungan dengan perubahan – perubahan baru dalam hidupnya. Mulai dari perubahan fisik, psikis, maupun interaksi sosial. Perubahan fisik mencakup perubahan primer yang ditandai dengan berfungsinya organ reproduksi dan perubahan sekunder yang ditandai dengan perubahan struktur tubuh, suara, dan lain-lain.
“Perubahan psikis antara lain timbulnya perasaan sudah dewasa, sudah besar, sudah mandiri, dan tidak mau banyak diatur orang tua. Perubahan-perubahan itu berdampak pada tingkah laku, pola pikir, cara berpakaian dan pola pergaulan,” ungkap Kepala Seksi Bina Ketahanan Remaja Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (P3A KB), Siti Urifaturosyidah dalam diskusi remaja di Kecamatan Gayam, Minggu (15/4/2018).
Menurut Uri, apabila tidak dapat menyikapi dengan baik, maka generasi muda akan mudah terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Untuk mempersiapkan generasi yang berkualitas, dibutuhkan kerjasama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah. “Namun dengan mudahnya teknologi informasi di era digital ini, terkadang remaja lepas kendali,” imbuhnya.
Upaya yang dilakukan Pemerintah saat ini, lanjuta Uri, adalah dengan menggalakan organisasi remaja di tingkat desa berupa Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R). PIK-R adalah salah satu wadah kegiatan Remaja yang akan menuntun mereka pada kegiatan-kegiatan positif, dan melatih mereka menjadi GenerasiBerencana secara dini.
“PIK-R diharapkan bisa menyebarkan informasi mengenai kesehatan reproduksi remaja, masalah seksualitas, HIV/AIDS, NAPZA, serta Penyiapan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja (PKBR),” tandasnya.
Di Kabupaten Bojonegoro, Uri menilai PIK-R Kecamatan Gayam sangat aktif. Bahkan seluruh desa di Kecamatan Gayam sudah mengeluarkan SK Kades sebagai bentuk dukungan terhadap aktivitas positif para remaja ini. “Luar biasa untuk remaja kecamatan Gayam, terima kasih ExxonMobil dan Pattiro Surakarta yang terus mendampingi para remaja,” ujarnya disambut tepuk tangan seluruh hadirin.
Perwakilan LSM Pattiro Surakarta, Wiwik Nurwidiyanti menjelaskan, munculnya PIK-R di Kecamatan Gayam berkat prakarsa operator Lapangan Migas Banyu Urip, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). Pada mulanya, kata dia, EMCL memprakarsai program kesehatan remaja. Bekerjasama dengan Pattiro Surakarta, kemudian EMCL mendukung untuk melanjutkan program pemberdayaan remaja melalui pembentukan dan pendampingan PIK-R. “Alhamdulillah semua pihak, termasuk Pemerintah Desa dan tokoh masyarakat mendukung program ini,” paparnya.
Sebagai bagian dari Program Pemerintah, PIK-R merupakan suatu wadah kegiatan program PKBR yang dikelola dari, oleh dan untuk remaja guna memberikan pelayanan informasi dan konseling tentang Perencanaan Kehidupan Berkeluarga Bagi Remaja serta kegiatan-kegiatan penunjang lainnya. “Dalam program ini, agar berkelanjutan, kita buat PIK-R sebagai wahan diskusi dan berkreasi bagi remaja di desa yang selama ini belum terfasilitasi dengan baik,” jelas Wiwik.
Sejak 2016 lalu, EMCL mendukung Pemerintah dalam memberdayakan remaja dan meningkatkan taraf kesehatan di masyarakat sekitar wilayah operasinya. Seperti diungkapkan perwakilan EMCL Galih Tiara. Menurutnya, peningkatan taraf kesehatan masyarakat sangat menjadi perhatian EMCL. “Kami ingin mendukung Pemerintah dalam mewujudkan masyarakat yang sehat dan bahagia sebagai indikator kesejahteraan,” cetusnya.
Galih menjelaskan, EMCL juga melakukan berbagai upaya lain dalam berbagai program kesehatan lainnya. Hingga saat ini, kata dia, EMCL sudah mengembangkan 20 poliklinik desa (polindes), melatih lebih dari 100 bidan desa, memberikan makanan tambahan bagi lebih dari 1.600 balita, dan mendirikan Puskesmas Kecamatan Gayam baru-baru ini. “Kita juga mendukung peningkatan kesehatan dengan program jamban sehat, yang sekarang ini sudah lebih dari 3.300 jamban diberikan,” tutur dia menjelaskan.
Galih mengaku pihaknya selalu berkoordinasi dengan Pemerintah, mulai dari tingkat desa hingga provinsi. Hal ini dilakukan supaya program tidak tumpang tindih, tepat sasaran, tepat guna, dan berlelanjutan. “Program kami tidak menggantikan peran Pemerintah di masyarakat,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY